02 Agustus 2012

Sastra Bandingan Novel Terjemahan

Diksi dalam Novel The Old Man and The Sea dan Lelaki Tua dan Laut
(Kajian Bandingan Terhadap Karya Terjemahan)
Oleh: Reza Sukma Nugraha 

The Old Man and The Sea merupakan novel karangan Ernest Hemingway, novelis peraih nobel sastra pada 1954. Novel ini mengisahkan seorang lelaki tua yang juga nelayan bernama Santiago. Ia berusaha sekeras tenaga untuk mendapatkan ikan karena selama 84 hari tidak kunjung mendapatkan hasil. Pada hari ke-85, ia pun berlayar sendiri tanpa ditemani sahabatnya, si bocah kecil.

Novel ini telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa, termasuk bahasa Indonesia. Di Indonesia, terdapat beberapa versi terjemahannya. Di antaranya adalah hasil terjemahan Sapardi Djoko Damono yang juga menerjemahkan judulnya menjadi Lelaki Tua dan Laut dan Dian Vita Ellyati yang tetap mempertahankan judul aslinya.

Sapardi Djoko Damono (selanjutnya disingkat SDD) adalah seorang sastrawan dan pujangga Indonesia. Sedangkan Dian Vita Ellyati adalah penerjemah novel Love in The Time of Cholera dan juga penulis. Keduanya menerjemahkan novel The Old Man and The Sea dengan gaya bahasa khas masing-masing. Perbedaan latar belakang penerjemah mempengaruhi gaya bahasa yang digunakan keduanya.

Perbedaan diksi di antara kedua karya terjemahan tersebut menimbulkan masalah. Pertama, apa saja perbedaan diksi yang terdapat dalam kedua karya terjemahan tersebut. Kedua, diksi siapa yang lebih baik di antara kedua karya terjemahan tersebut. Dengan demikian, diperlukan analisis terhadap kedua karya terjemahan tersebut dengan menggunakan pendekatan stilistika.

Stilistika merupakan ilmu yang digunakan untuk menyelidiki bahasa yang dipergunakan dalam karya sastra, ilmu interdisipliner antara linguistik dan kesusastraan (Kridalaksana, 1982). Ruang lingkupnya mencakup diksi atau pilihan kata (pilihan leksikal), struktur kalimat, majas, pencitraan, pola rima dalam karya sastra (Sudjiman, 1993). 

Diksi sangat menentukan dalam penyampaian makna suatu karya sastra (Sudjiman, 1993). Pengarang harus jeli memilih kata, frase, atau kalimat sehingga dapat memberikan kesan atau efek tertentu bagi pembaca. Dalam karya terjemahan, maka penerjemahlah yang harus memilih diksi secara saksama agar pesan yang disampaikan pengarang dalam bahasa asli tetap utuh setelah diterjemahkan ke dalam bahasa sasaran.

Perbandingan Diksi yang Digunakan 

Di dalam kedua karya terjemahan tersebut, terdapat perbedaan diksi yang digunakan SDD dan DVE. Perbedaan ini di antaranya terlihat dalam pemilihan kata dan frase yang digunakan SDD dan DVE.

Berikut ini tabel contoh perbandingan pemilihan kata dan frase yang digunakan kedua penerjemah.

No
Sapardi Djoko Damono
Dian Vita Ellyati
1
Salao, yakni yang paling sial di antara yang sial … (hlm. 5)
Salao, yaitu bentuk terburuk dari keadaan tidak beruntung … (hlm. 3)
2
Anak (laki-laki)
(pada seluruh isi cerita)
Bocah
(pada seluruh isi cerita)
3
Tiga ekor ikan besar (hlm. 5)
Tiga ekor ikan bagus (hlm. 3)
4
Kait besar dan kait kecil (hlm. 5)
Tombak ikan, seruit (hlm. 3)
5
Panji-panji tanda takluk abadi (hlm. 5)
Bendera kekalahan permanen (hlm. 3)
6
Lelaki tua itu tumbuh kurus dan pucat (hlm. 5)
Lelaki tua kurus kering dengan keriput (hlm. 3)
7
Pantulan matahari di laut tropis (hlm. 5)
Refleksi sinar matahari pada lautan tropik  (hlm. 3)
8
Noda itu memenuhi wajahnya dan kedua tangannya penuh dengan goresan-goresan tajam, yakni bekas luka … (hlm. 6)
Noda itu menuruni kedua sisi wajahnya dan tangan-tangannya memiliki parutan bekas luka (hlm. 3)
9
“Santiago,” kata anak laki-laki itu kepadanya ketika mereka menaiki tebing, dari mana perahunya diseret ke darat. (hlm. 6)
“Santiago,” si bocah berkata padanya ketika mereka mendaki tebing tempat sampan mulai diseret. (hlm. 4)
10
“Aku bisa ikut kau lagi. Kami sudah mendapat cukup uang.”
“Aku bisa pergi denganmu lagi. Kita telah menghasilkan banyak uang.”
11
Jangan,” kata lelaki tua itu. (hlm. 6)
Tidak,” lelaki tua itu menolak. (hlm. 4)
12
… dan bercakap-cakap dengan sopan tentang arus … (hlm. 7)
… malahan berbicara dengan sopan mengenai arus … (hlm. 5)
13
… dan telah menyembelih ikan todal mereka (hlm. 7)
menjagal tangkapan mereka (hlm. 5)
14
… ke arah gudang ikan … (hlm. 7)
… ke arah rumah ikan … (hlm. 5)
15
… di mana mereka menunggu truk es … (hlm. 7)
… di mana mereka telah ditunggu truk es … (hlm. 5)
16
Tetapi hari itu baunya tidak tajam … (hlm. 8)
Tetapi saat ini hanya tercium bau samar-samar … (hlm. 5)
17
Baseball (hlm. 8)
Kasti (hlm. 6)
18
“Lima, dan kau nyaris celaka ketika kuangkat ikan yang masih terlalu buas …” (hlm. 8)
“Lima dan engkau hampir terbunuh ketika aku membawa ikan yang sangat muda itu …” (hlm. 6)
19
“Kuingat ekornya membentur-bentur …” (hlm. 8)
“Aku masih ingat ekornya memukul …” (hlm. 6)
20
“Kalau saja kau ini anakku sendiri kubawa kau besok mengadu untung,” katanya. (hlm. 9)
“Andai saja engkau adalah anakku sendiri, aku akan mengajakmu keluar dan bertaruh,” ia berharap. (hlm. 7)
21
“Apakah matanya sudah begitu buruk?” (hlm. 10)
“Apakah penglihatannya begitu buruknya?” (hlm. 8)
22
Padahal itulah yang merusak mata. (hlm. 10)
Padahal itulah yang mematikan mata. (hlm. 8)
23
“Supaya bisa kuurus jala itu dan pergi membeli ikan sardin.” (hlm. 11)
“Dengan begitu aku sempat mengambil jala tebar dan menangkap sarden.” (hlm. 9)
24
… ditinggal di perahu. (hlm. 11)
… ditinggalkan di atas kapal. (hlm. 9)
25
“Sepanci nasi kuning. Kau ingin makan?” (hlm. 12)
“Sepanci nasi jagung dan ikan. Apa engkau mau?” (hlm. 10)
26
Tetapi mereka suka berkhayal … (hlm. 12)
Tetapi mereka melakukan fiksi ini … (hlm. 10)
27
Kedelai dan nasi, pisang goreng, dan daging rebus.” (hlm. 16)
Kacang polong, pisang goreng, dan sayuran rebus.” (hlm. 14)
28
… atau perkelahian atau adu kuat atau istrinya. (hlm. 21)
… atau kontes kekuatan. (hlm. 19)
29
Mereka minum kopi dari kaleng susu … (hlm. 22)
Mereka mendapat kopi dalam kaleng susu … (hlm. 21)
30
Lelaki tua itu meneguk kopinya … (hlm. 23)
Lelaki tua itu menghirup kopinya … (hlm. 21)
31
Ia mendayung dengan tenang tanpa banyak mengeluarkan tenaga … (hlm. 26)
Ia mendayung secara konstan tanpa perlu membuang tenaga … (hlm. 24)
32
Tidak ada pikirannya yang aneh-aneh tentang penyu meskipun ia pernah bertahun-tahun bekerja dalam perahu penyu. (hlm. 33)
Ia tak menyimpan kepercayaan mistis mengenai penyu walaupun dia pernah bergabung dengan kapal penyu selama bertahun-tahun. (hlm. 31)

Perbedaan yang paling mencolok adalah penggunaan istilah anak laki-laki (SDD) dan bocah (DVE) dalam contoh nomor 2. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Daring, bocah memiliki arti anak (kecil) dan kanak-kanak. Sedangkan, anak di antaranya memiliki arti manusia yang masih kecil.

Penggunaan kata yang bersinonim juga terdapat dalam beberapa kutipan lainnya. Seperti penggunaan kata pantulan dan refleksi (nomor 7), menaiki dan mendaki (nomor 9), bercakap-cakap dan berbicara (nomor 12), menyembelih dan menjagal (nomor 13), mengadu untung dan bertaruh, dan lain-lain. Kata-kata tersebut memiliki arti yang sama sehingga dapat dikatakan kemunculannya tidak menimbulkan masalah.

Selain itu, terdapat juga perbedaan pemilihan frase yang memiliki makna sama. Namun, keduanya memiliki diksi yang berbeda. Misalnya, pada perbedaan frase yang paling sial di antara yang sial dan keadaan terburuk dari keadaan tidak beruntung (nomor 1). Frase pertama dipilih SDD, saya kira lebih jelas maknanya daripada frase kedua yang dipilih DVE. Sama halnya pada frase panji-panji tanda takluk abadi dan bendera kekalahan permanen (nomor 5). Menurut saya, frase pertama yang dipilih SDD lebih baik daripada yang dipilih DVE.

Selain perbedaan diksi tersebut, terdapat juga perbedaan pemilihan kata atau frase yang masing-masing memiliki makna berbeda (tidak bersinonim). Hal ini menimbulkan masalah, karena pembaca novel tersebut akan menjadi bingung menentukan makna di antara kedua karya terjemahan itu.

Misalnya, pada frase ikan besar yang dipilih SDD dan ikan bagus yang dipilih DVE (nomor 3). Besar berarti tidak kecil (tentang ukuran), sedangkan bagus berarti baik sekali atau elok (KBBI Daring). Hal tersebut menunjukkan, diksi yang tepat untuk menyatakan ukuran adalah frase yang dipilih SDD karena menjelaskan ukuran ikan.

Contoh lainnya adalah perbandingan klausa tetapi hari itu baunya tidak tajam (SDD) dan tetapi saat ini hanya tercium bau samar-samar (DVE) (nomor 16). Dalam kedua klausa tersebut, terdapat dua kata/frase yang berbeda, yaitu tidak tajam dan samar-samar. Keduanya merujuk pada kata bau. Tajam di antaranya memiliki arti nyata atau jelas (KBBI Daring) sehingga tidak tajam berarti tidak jelas. Sedangkan samar-sama memiliki arti: (1) kabur, tidak kelihatan nyata, agak gelap; (2) sayup-sayup (pendengaran); (3) tersembunyi, (4) gaib; (5) saru, keliru. Dengan demikian, diksi yang tepat adalah yang dipilih SDD.

Masalah lainnya adalah diksi yang digunakan penerjemah memiliki arti yang sangat berbeda bahkan bertentangan. Hal ini akan menyulitkan pembaca novel terjemahan tersebut, terutama bagi yang tidak dapat membaca karya aslinya dalam bahasa Inggris.

Contohnya, pada kalimat “Kedelai dan nasi, pisang goreng, dan daging rebus” (SDD) dan “Kacang polong, pisang goreng, dan sayuran rebus” (DVE) (nomor 27). Perbedaan yang mencolok adalah penyebutan frase daging rebus dan sayuran rebus. Hal ini tentu akan membingungkan pembaca karena keduanya memiliki arti yang sangat berbeda. Kalimat tersebut diterjemahkan dari versi aslinya, “Black beans and rice, fried bananas, and some stew.” Frase some stew memiliki arti “food made of vegetables and meat cooked together in liquid” (Cambridge Dictionaries Online). Jadi, kata stew merujuk pada sayuran dan daging. Kata tersebut baru memiliki makna jelas jika disandingkan dengan kata daging atau sayur, misalnya beef stew.

Contoh lainnya pada kalimat , “ … ke arah gudang ikan di mana mereka menunggu truk es …” (SDD) dan “… menuju rumah ikan di mana mereka telah ditunggu truk es …” (DVE) (nomor 15). Perbedaannya terletak pada kata menunggu dan ditunggu. Hal ini jelas bertentangan karena menunggu merupakan kalimat aktif (subjeknya adalah mereka), sedangkan ditunggu merupakan kalimat pasif (subjeknya adalah truk es). Kalimat tersebut diterjemahkan dari versi aslinya, “To the fish house where they waited for the ice truck to carry them to the market in Havana.” Klausa they waited for the ice truck memiliki arti mereka menunggu truk es itu (kata kerja aktif). 

Kesimpulan 

Dalam novel terjemahan Lelaki Tua dan Laut (diterjemahkan oleh SDD) dan The Old Man and The Sea (diterjemahkan DVE) terdapat perbedaan diksi yang digunakan. Perbedaan tersebut dipengaruhi latar belakang penerjemah yang berbeda. SDD adalah seorang penyair, sedangkan DVE adalah seorang penerjemah novel dan penulis buku.

Perbedaan hasil terjemahan kedua penerjemah tersebut dapat dibedakan sebagai berikut. Pertama, perbedaan kata/frase yang masih bersinonim. Kedua, perbedaan kata/frase yang memiliki diksi yang berbeda. Ketiga, perbedaan kata/frase yang memiliki perbedaan makna pula. Keempat, perbedaan kata/frase yang memiliki arti sangat berbeda bahkan bertentangan.

Perbedaan pertama tidak menimbulkan masalah pembaca. Namun, perbedaan kedua, ketiga, dan keempat menimbulkan masalah. Setelah dilakukan analisis, dapat diketahui bahwa diksi yang digunakan SDD lebih baik daripada diksi yang digunakan DVE.

Referensi 

Cambridge Dictionaries Online.
Hemingway, Ernest. 1952. The Old Man and The Sea. New York: Holt, Rinehart, & Winston
_____________ . 2009. The Old Man and The Sea. Surabaya: Selasar.
_____________. 2001. Lelaki Tua dan Laut. Jakarta: Pustaka Jaya.
Kamus Besar Bahasa Indonesia Dalam Jaringan (Daring)
Kridalaksana, Harimurti. 1982. Kamus Linguistik. Jakarta: Gramedia.
Sudjiman, Panuti. 1986. Kamus Istilah Sastra. Jakarta: Gramedia.

1 komentar:

Silakan tinggalkan komentar.