22 Januari 2012

Jadi HL, Kemenkominfo Minta Maaf Secara Singkat

Setelah meluapkan kekesalan karena merasa "kecurian" artikel, yang pelakunya Tabloid Komunika milik Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) pada tulisan sebelumnya (17/1), saya sedikit lega. Dalam hitungan menit, artikel tersebut jadi headline di Kompasiana. Sebetulnya, saya semakin tergerak ingin melontarkan uneg-uneg tersebut, setelah rekan Sukron Abdilah mengulasnya terlebih dahulu pada 12 Januari 2011. Saya, yang lebih dapat mengekspresikan perasaan lewat tulisan ketimbang secara lisan, merasa cukup untuk menyuarakan kerjaan gak mutu awak tabloid plat merah itu.

Tanpa diduga, ternyata setelah tulisan pertama karya Sukron Abdilah dipublikasikan, ada pihak Kemenkominfo bernama Ibu VN yang meminta maaf dan meminta nomor kontak saya via akun lama Facebook saya pada 14 Januari 2011. Berikut isi pesannya:



Karena saya punya dua akun Facebook (kedua akun tersebut juga diinformasikan dalam blog saya), saya baru sempat mengecek dan membalas pesan dari Kemenkominfo itu pada 18 Januari 2011. Saya kemudian memberikan nomor kontak dengan harapan ada penjelasan yang memuaskan saya dan komitmen dari Tabloid Komunika Kemenkominfo untuk tidak mengulangi hal ini kepada blogger lainnya.

Kemudian pada pukul 11.47 WIB, seorang staf Kemenkominfo bernama Bapak TR menghubungi saya. Sebetulnya, saya tidak berada pada posisi yang nyaman untuk berkomunikasi karena kondisi saat itu sedang berdiri di pinggir jalan menunggu hujan reda, belum lagi suara-suara bising mengganggu. Setelah memperkenalkan diri, barulah dia membicarakan "pencurian" artikel ini. Kesimpulannya, apa yang dia utarakan kepada saya adalah versi lisan dari pesan Facebook yang dikirim oleh Ibu VN.

Kesimpulannya (meski tidak sama persis, mudah-mudahan esensinya tetap sama), "Bapak, saya--atas nama segenap pimpinan--minta maaf karena telah memuat artikel Bapak tanpa pemberitahuan sebelumnya. Saat itu, kami kesulitan mencari nomor kontak Bapak sehingga tidak bisa menghubungi terlebih dahulu. Waktu itu, kami juga dalam posisi terburu-buru untuk naik cetak sehingga kami lupa untuk menghubungi Bapak."

Saya menghela napas sejenak dan hanya menanggapi "Oh" dan kemudian ia bertanya kabar dengan ramah. "Bapak apa kabarnya?" Dan, saya jawab seadanya. Setelah itu dia kembali bicara, "Memang, untuk rubrik opini, kami mengambilnya dari blog-blog pilihan. Jadi, kalau bapak tidak keberatan bisa menjadi koresponden kami, tentu yang sesuai tema, nomor Bapak yang ini, kan?" Ya, saya jawab iya karena memang itu nomor saya. "Sekali lagi, kami mohon maaf sebesar-besarnya atas kekhilafan ini."

Pembicaraan yang hanya berdurasi 2 menit 33 detik itu berlangsung dengan sangat datar dan dingin. Bahkan, saya tidak sempat menanggapi pernyataan darinya. Karena pembicaraan itu lebih berisi informasi dan permohonan maaf. Katanya, tidak ada kontak yang bisa dihubungi. Padahal, di blog tersebut pada Oktober 2011 sudah saya cantumkan alamat Facebook, Twitter, bahkan YM. Bahkan, meninggalkan jejak pun lewat komentar, pasti saya balas. Hingga kemudian, dia menyatakan "lupa". Nah, kalau sudah pada taraf lupa, ya, sudah semestinya saya berbijak. Manusia memang tempatnya salah dan lupa, tah? Jadi, saya harus memaklumi hal tersebut.

Saya belum sempat menanyakan detail prosedur yang digunakan Tabloid Komunika untuk memuat tulisan dari blog ke opini. Apakah semua benar-benar atas izin atau sepengetahuan blogger yang bersangkutan dan "hanya" lupa pada saya, atau semuanya tetap berlaku sama, comot tulisan dari blog dan langsung memuatnya. Semoga, bukan opsi kedua yang diambil. Saya harap, Tabloid Komunika tetap menjunjung tinggi etika dalam mengambil karya-karya blogger untuk kemudian disebarluaskan melalui tabloid tersebut.

Semoga jadi pembelajaran bagi kita semua.

0 komentar:

Poskan Komentar

Silakan tinggalkan komentar.