15 Februari 2012

Demam Huruf "e"

(sumber: e-kampung121m.wordpress.com)
Tulisan ini bukan ide asli saya sendiri. Saya terinspirasi dengan tulisan sahabat sekaligus guru saya di bidang penulisan, Sukron Abdilah, pendiri situs komunitas Jejaringku.com. Akhir tahun lalu, Sukron menulis artikel "Semuanya Serba e-" yang dimuat di media massa. Nah, saya tertarik membahas artikel tersebut dan berbagi informasi dengan kawan blogger semuanya.

Di era serba digital seperti saat ini, kehadiran internet--mau tidak mau, suka tidak suka--sangat membantu kebutuhan manusia. Banyak hal berubah menjadi mudah, manakala bersentuhan dengan internet. Tentu, segala hajat manusia ini terdiri atas berbagai bidang, mulai dari pendidikan, sosial, ekonomi, politik, hingga kehidupan sehari-hari. Dari segi bahasa, era digital telah melahirkan "demam" huruf "e-" yang melekat pada semua produk yang sudah tersentuh internet. Jadi, di dalam berbagai bidang, kita akan menjumpai banyak "e-" yang melekat pada hal tertentu baik berupa barang (benda) atau jasa.

Di bidang perbankan, kita mengenal istilah e-banking yang tentu akan memudahkan transaksi. Kalau biasanya transfer dilakukan dengan cara mengantre di bank, bayar listrik selalu berdesakan, dengan e-banking, kita bisa melakukan semua tersebut cukup di rumah, di atas kasur, sambil nonton teve, atau sekalian sambil selimutan :) Yang belum saya temukan hanya transaksi pengambilan uang tunai via e-banking. Mungkinkah nanti ada, ya? #berpikir

(sumber: www.chinasmack.com)
Di bidang perdagangan juga, kita sudah mengenal e-payment, yaitu pembayaran secara daring (online). Dengan demikian, kita tidak direpotkan jika hendak membeli suatu produk, apalagi dari luar negeri. Misalnya membeli buku di Amazon. Cukup memilih beragam jenis buku di keranjang belanja, lalu transaksi pembayaran dapat dilakukan dengan kartu kredit atau menggunakan Paypal. Bisnis di dunia maya sendiri biasa disebut e-business atau e-commerce.

Seperti tak mau kalah, di dunia pendidikan, kini kita mengenal istilah e-learning, yaitu proses pendidikan dengan melibatkan perangkat elektronik dan akses internet. Bahkan, proses belajar-mengajar tidak selalu harus bertatap muka, dibatasi sekat-sekat konvensional. Selain itu, media pembelajarannya pun tidak selalu menggunakan buku-buku cetak. Kini, sudah dikenal istilah e-book, buku digital yang dapat diunduh dengan leluasa. Tentu, kita tidak memerlukan lemari atau rak buku besar untuk menyimpannya. E-book juga dapat meminimalisasi penggunaan kertas yang secara tidak langsung menekan angka penebangan pohon. Isu ini yang menarik aktivis lingkungan.

Seorang petugas merekam retina mata seorang warga dengan alat khusus. Ini adalah prosedur pembuatan e-KTP (Sumber: www.antaranews.com)
Di bidang sosial, tentu saat ini, kita sedang gencar-gencarnya membuat KTP digital yang biasa disebut e-KTP. Konon, e-KTP dinilai lebih canggih, karena mampu merekam identitas kepemilikan si pemegang kartu tanpa mungkin bisa digandakan.

Tentu masih banyak barang dan jasa yang kini sudah dilekati huruf "e-". Surat konvensional yang biasanya memerlukan kertas, amplop, dan prangko, kini menjelma menjadi e-mail. Media massa (koran, tabloid, dan majalah), di samping menerbitkan edisi cetak, tetap menyuguhkan versi digitalnya dengan e-paper. Masuk jalan tol, sekarang sudah bisa pakai e-Toll Card. Saat ini, Bank Indonesia juga sedang merancang e-money sebagai pengganti karcis Kereta Api Listrik. Partai politik juga memanfaatkan internet sebagai media kampanye, yang biasa disebut e-campaign.

Itulah sederet barang dan jasa yang dilekati huruf "e-". Tentu kita semua pun sudah tertulari demam ini karena yang berbau "e-" cenderung lebih memberikan kemudahan. Saya jadi berpikir, kira-kira istilah apa lagi yang akan muncul dengan dilekati huruf "e-" ini, ya? Apakah nanti akan ada e-wedding untuk pernikahan via internet? Atau jangan-jangan akan ada pasangan digital berupa e-wife atau e-husband? Wiii, tentu mengerikan ...

Silakan e-sahabat semua berkomentar, pernahkah menemukan istilah yang dilekati "e-" lainnya?

Selengkapnya »

Bahasa Indonesia-nya Blogger

(sumber: www.ericktecno.com)
Bahasa Indonesia kini sedang dikampanyekan untuk menjadi bahasa internasional. Banyak ahli berpendapat bahwa kemungkinan menjadi bahasa internasional cukup besar, karena didukung beberapa faktor, di antaranya jumlah penutur yang besar (penduduk Indonesia saja 237 juta lebih, ditambah penutur bahasa Melayu), pusat kebudayaan Indonesia yang semakin mudah ditemui di beberapa negara, dan bahasa Indonesia banyak dipelajari di beberapa perguruan tinggi negara lain.

Oleh karena itu, mari kita mengenali bahasa Indonesia lebih dekat. Memomulerkan istilah-istilah "buatan dalam negeri" yang mulai kalah dengan istilah asing. Memang hal kecil, namun jika upaya tersebut mulai disadari oleh seluruh masyarakat, tentu kebanggaan berbahasa bisa jadi modal utama sebelum bahasa Indonesia melangkah ke dunia internasional. Selain itu, kita juga bisa menghindari xenoglossofilia :)

Salah satunya, istilah-istilah yang biasa kita gunakan dalam teknologi informasi. Seperti saya sebutkan sebelumnya, ada beberapa istilah asing yang sebetulnya sudah ada padanannya di dalam bahasa Indonesia. Kini, beberapa media massa juga sudah mulai "bertanggung jawab" dengan terus menyosialisasikan istilah-istilah tersebut. Tentu istilah-istilah dalam bahasa Indonesia tersebut terdengar "aneh", asing, atau bahkan lucu.

Untuk para blogger, istilah berikut pasti sudah sering dijumpai. Yuk, kita lihat ....


Istilah Populer (Asing)

Isitilah Bahasa Indonesia
Account Akun
Add Menambah
Attachment Lampiran
Background Latar belakang
Bookmark Tandai
Browser Peramban
Chat 
Chatting
Obrol
Mengobrol
CopyPaste

Copy-paste
SalinTempel

Salin-tempel
Domain Ranah
Download
Men-download
Unduh
Mengunduh
Edit Sunting
E-mail Surat elektronik (surel)
Pos elektronik (posel)
File Berkas
Forward Terusan, meneruskan
Hack 
Hacker

Meng-hack, Nge-hack
Retas
Peretas

Meretas
Home Beranda
Hotspot Area bersinyal
Install
Meng-install
Pasang, Memasang

Pemasangan, instalasi
Keyboard Papan tombol
Link Taut, tautan
Log in 
Log out
Log masuk
Log keluar
Mailing list Milis
Messenger Penyeranta
Mouse Tetikus
Offline 
Online
Luar jaringan (luring)
Dalam jaringan (daring)
Password Kata sandi/Sandi lewat
Personal Computer (PC) Komputer pribadi
Preview Pratayang
Printer 
Nge-print
Pencetak
Mencetak
Recycle bin Kotak sampah
Remove Menghapus
Scan
Men-scan

Scanning

Hasil scan
Pindai
Memindai

Pemindaian

Pindaian
Shortcut Pemintas
Sign in 
Sign out
Catat masuk
Catat keluar
Software 
Hardware

Freeware

Shareware
Perangkat lunak
Perangkat keras

Perangkat gratis

Perangkat bersama
Timeline (Twitter, Facebook) Lini masa (Twitter, Facebook)
Update
Meng-update
Pemutakhiran, pembaruan
Memutakhirkan, memperbarui
Upload 
Meng-upload
Unggah
Mengunggah
Website Laman

Jadi, jika merujuk pada bahasa Indonesia, ungkapan "Sekarang waktunya update status di timeline, download lagu, sambil kirim e-mail ke si Cinta. Mumpung online, nih" seharusnya menjadi "Sekarang waktunya memperbarui status di lini masa, unduh lagu, sambil kirim surel ke si Cinta. Mumpung daring, nih". Aneh bukan? Tapi, itulah bahasa Indonesia kita tercinta :)

Loh, kok, ada Cinta Laura, ya? Abaikan :D (sumber: http://artis.inilah.com)
Catatan: Untuk meyakinkan bahwa suatu istilah baku atau ada dalam bahasa Indonesia, silakan diperiksa di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Daring

Selengkapnya »

22 Januari 2012

Faktanya, Soekarno-Hatta Sangat Jarang ke Masjid

(Sumber: www.flickr.com)

Berawal dari celotehan ponakan seorang kawan, "Om, tahu gak, siapa pahlawan masjid?" Si om sempat dibuat bingung dengan pertanyaan ponakan yang masih bocah itu. Saat kawan saya melontarkan pertanyaan yang sama pun, saya sempat bingung. Siapa, ya, pahlawan masjid? Mungkinkah itu ketua DKM, pengurus DKM, imam besar, ustad yang sering kasih pengajian, atau para jamaahnya. Setelah menyerah, si bocah menjawab innocent, "Ya, Pattimura, dong!" Haaa, saya langsung melongo (dengan ekspresi datar selama 10 detik). Hmmm, betul juga itu bocah, memang pahlawan yang sering "nongkrong" di masjid paling banyak biasanya Kapitan Pattimura yang berpose gagah dan berwibawa (meski lebih mendekati garang) dalam duit Rp1.000,- yang mendekam dalam kotak amal jariyah.

Kotak amal jariyah (dalam bahasa Sunda, disebut koropak) adalah salah satu "aksesori" wajib yang biasanya ditemukan di masjid-masjid, baik masjid kecil (langgar, mushala) hingga masjid raya sekalipun. Yaitu, tempat yang digunakan untuk "menampung" uang dari para jamaah masjid yang dermawan. Bentuk kotak amal jariyah, ya sesuai namanya--kotak--biasanya juga berupa kotak, meski ada juga yang dimodifikasi jadi berbagai bentuk, seperti bentuk kubah masjid, mobil-mobilan (dikira penitipan anak, kali, ya?), kotak beroda, bahkan ada juga yang bentuknya keranda jenazah. Mungkin, dengan demikian, orang akan lebih termotivasi untuk bersedekah mengingat dihadapkan pada keranda jenazah mini. Dan, yang paling penting, kotak amal jariyah harus memiliki lubang yang panjangnya sekitar 5 cm dan lebar yang hanya beberapa mili. Yang penting, uang koin dan kertas yang dilipat bisa masuk. Jangan terlalu lebar, apalagi sampai bisa dimasuki tangan. Bahaya!

Kotak amal jariyah selalu tersimpan dalam keadaan terkunci. Jika tidak dikunci, dikhawatirkan memancing tangan-tangan jahil untuk mencicipi kriminal. Kotak amal jariyah, ada yang disimpan secara permanen di satu posisi, misalnya di bagian depan pas pintu masuk atau di beberapa penjuru masjid. Ada pula kotak amal jariyah yang kemunculannya bersifat insidental, misalnya kotak amal jariyah yang biasa "keliling" saat shalat Jumat, saat pengajian, saat acara-acara PHBI, dan beberapa acara yang biasa diadakan masjid. Isinya? Tentu isinya adalah uang. Saya belum pernah menemukan kotak amal jariyah di masjid yang isinya selain dari uang, semisal permen, rokok, surat pengaduan, atau apapun yang bisa masuk lewat lubang keci. Uangnya pun beragam nominal, terdiri dari uang logam dan kertas.

Kebetulan, bapak saya adalah ketua DKM di salah satu masjid jami (tingkat dusun). Biasanya, selepas ibadah shalat Jumat setiap minggunya, beliau dan para pengurus suka "membongkar" kotak amal jariyah yang sudah keliling mulai shaf depan hingga shaf belakang. Biasanya, saat kotak amal jariyah melintasi shaf awal, akan berjalan lambat. Namun lama-lama, saat melintasi shaf ujung, kotak amal jariyah berjalan semakin cepat. Apalagi jika satu shaf diisi bocah SD, kotak bakal berjalan ngebut ekspress, sama sekali gak berhenti. Setelah dibongkar, maka akan keluarlah banyak "pahlawan" dari si Kotak Amal Jariyah itu. Meski perwajahan para pahlawan itu dalam kondisi yang berbeda-beda, ada yang masih mulus, ada sudah lusuh, kusut, kucek, bau mesin ATM atau bau tomat.

Jumat pekan lalu, iseng-iseng saya ikut nimbrung bapak "membelah"
duren
, ups, kotak amal jariyah. Ingin membuktikan, celotehan ponakan kawan saya di atas, benarkan Pattimura adalah pahlawan yang "rajin" ke masjid. Setelah dibuka, kotak terdiri dari uang kertas dan logam. Saya cuma memerhatikan para pengurus DKM menghitung. Alhasil, yang pertama tentu masih didominasi oleh Kapitan Pattimura, kedua Pangeran Antasari, ketiga Pangeran Diponegoro, keempat Sultan Mahmud Badarudin II, kelima Oto Iskandar Di Nata, dan ... di posisi keenam, hanya ada seorang I Gusti Ngurah Rai. Hmmm, nampaknya masih ada yang kurang. Saya coba berpikir keras--seperti mengingat-ingat sesuatu--dan yaaa, saya sadar bahwa para punggawa negeri, sang Proklamator Soekarno-Hatta nampaknya tidak hadir pada Jumat kali itu.

Isi kotak amal sudah selesai dihitung. Meski hasilnya cukup besar dari segi angkanya, saya yang baru sekali itu ikut nimbrung "membongkar" kotak amal jariyah, kecewa karena founding father negeri ini ternyata tidak ikut shalat Jumat waktu itu. Ternyata, tidak ada yang jamaah yang berkenan memasukkan "Soekarno-Hatta" ke dalam kotak amal jariyah. Tapi, saya yakin itu bukan karena keengganan, melainkan "para pahlawan tersebut" sudah jarang dimiliki para tetangga saya, dan termasuk saya dan keluarga. Meskipun ada, tentu jadi barang langka. Saya saja melihat mereka nyelip di dompet saya sangat jarang. Dalam sebulan, paling ketemu beberapa kali dalam dompet dan dalam hitungan menit sudah bertukar pahlawan-pahlawan lainnya. Berbahagialah Anda yang sudah terbiasa "tinggal" bersama kedua pahlawan tersebut. Semoga jadi refleksi bagi semua.

P.S. Pesan khatib yang saya ingat dari shalat Jumat tadi siang.

Q.S. Al-Baqarah [2]: 254 "Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi persahabatan yang akrab dan tidak ada lagi syafaat. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang lalim."

Ayo, silakan pilih. Siapa pahlawan yang mau Anda masukan kotak amal jariyah! :)















Ilustrasi dari banyak sumber (Google.com dan Flickr.com)

Selengkapnya »