Jalan-jalan yang kulalui tetaplah begitu
Lubang-lubang bekas cercaan
Kerikil menghempas dari longsoran kenistaan
Juga makin lama kian mengeropos
Laksana tulang renta sang bumi
Jalan-jalan yang kutapaki semakin begitu
Liku-liku tak beratur tak berpalang
Tempuhkan jarak yang tak masuk di akal
Biarpun halus malah licin dan terjatuh
Seperti menyeluncur di atas bekunya bumi
13 Juni 2009
18 : 22
Andai saja buah yang kau petik itu Khuldi
Maka aku rela memakannya
Kita lantas telanjang
Mempermalukan masing-masing
Namun ku akan suka itu
Sayang, yang kau petik hanya mangga muda
Aku tak mau mencicipnya
Ia lebih masam dari senyummu
[17 : 57]
Aku jadi ingat Bulan
Ia dulu yang mau menjadi pendampingku
Katanya, kalau nanti kita punya anak
Maka ia minta wajahnya setampanku
Aku jadi ingat Bulan
Ia dulu yang sudi menjadi istri
Katanya, asal aku tak menyakiti
Ternyata kini ia malah pergi
Karena aku menyakiti
[17 : 56]
Ah, apalah guna
Rangkaikan huruf-huruf yang tak memiliki mulut ini
Walau ia menggambarkan sesuatu
Tapi tetap mulut yang mewakilinya
Coba kalau saja,
Huruf-huruf ini punya mulut
Mereka tahu,
Mereka sedang dibodohi manusia
[17 : 53]
Kalau saja Pak Presiden tahu,
Berapa langkah yang dihabiskan bapak
Hanya untuk mengajari etika
Pada anak-anak yang ingusnya sendiri pun tak diurus
Ibu mereka
Kalau saja Pak Presiden tahu,
Berapa banyak deterjen yang disediakan ibu
Untuk mencuci baju bapak yang bau
Karena sehari pun dibanjiri peluh
Akibat berjalan dalam juluran matahari
Demi anak-anak yang baru tahu
Apa itu cinta, apa itu kasih, apa itu pengorbanan
Hufff…
Kalau saja Pak Presiden tahu,
Ia pun pernah esde
[17 : 51]
